SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN REGENERASI POLIANILIN SERTA APLIKASINYA SEBAGAI SENSOR UAP AMONIA
Oleh
NI PUTU YULIASTRI
NI PUTU YULIASTRI
0817011007

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, sering dilakukan pengembangan material fungsional yang dapat digunakan untuk lebih membantu manusia dalam banyak aspek karena karakter dan fungsinya yang signifikan secara kimia terhadap daya katalis, sensor (chemosensor dan biosensor), adsorpsi, dan lain-lain. Polimer konduktif merupakan salah satu jenis material fungsional. Polimer konduktif adalah polimer yang dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik terjadi karena ada elektron ikatan terdelokalisasi, yang mempunyai struktur pita seperti silikon. Polianilin (PANI) merupakan salah satu jenis polimer konduktif yang telah diteliti para ahli untuk berbagai macam aplikasi. Beberapa manfaat PANI antara lain sebagai lapisan kawat antikorosi, sebagai bahan elektroda pada baterai yang dapat diisi ulang dan sebagainya.
Film polianilin dapat digunakan untuk semua sensor solid dengan perolehan keuntungan sebaik konduktivitas ionik. Adanya ikatan n terkonjugasi pada polianilin mempakan keistimewaan yang dimilikinya sehingga menyebabkan polianilin dapat digunakan sebagai polimer konduktif. Bahan polimer konduktif ini sangat unik yaitu dapat mengalami perubahan sifat listrik dan optik yang dapat balik (reversible) melalui reaksi redoks dan doping-dedoping atau protonasi-deprotonasi sehingga sangat potensial dimanfaatkan pada berbagai aplikasi. Sejauh ini, bahan polianilin telah digunakan pada berbagai aplikasi seperti sensor kimia khususnya sensor gas, piranti elektrokromik, sel fotovoltaik, LED polimer dan baterai sekunder.
PANI termasuk polimer konduktif karena sintesisnya sederhana, stabilitas di lingkungan, dan konduktivitas listriknya cukup baik. Sifat listrik polianilin dapat dikontrol secara dapat balik melalui charge-transfer doping dan protonasi. Pembuatan polimer yang dilakukan pada temperatur kamar menunjukkan berat molekul yang rendah dan tapak yang cacat (defect sites). Polianilin biasanya disintesis melalui oksidasi monomer anilin secara kimia atau elektrokimia. Polianilin yang disintesis secara elektrokimia sulit untuk diproses karena kelarutannya yang rendah, sedangkan polianilin yang disintesis secara kimia memiliki berat molekul yang rendah, yang berakibat pada kekuatan mekaniknya rendah (Liu G., 1997 : 5660)..
Sensor digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan lingkungan baik fisik atau kimia. Polusi udara dewasa ini memang sangat memprihatinkan terutama di kota-kota industri, dimana gas buang dari industri sangat bermacam-macam salah satunya adalah gas amoniak, yang merupakan gas dengan kadar racun yang tinggi. Oleh karena itu sensor untuk mendeteksi gas amoniak dibutuhkan untuk memonitoring tingkat konsentrasi dalam industri kimia, baik itu dalam produksi pakan ternak dan produksi pupuk dimana gas amoniak digunakan atau dihasilkan.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
- Mengetahui cara sintesis polianilin
- Mengetahui karakterisasi senyawa polianilin
- Mempelajari metode modifikasi untuk meningkatkan kinerja polianilin
- Mengetahui cara regenerasi polianilin
II. ISI
2.1 Sintesis Polianilin
Polianilin dapat disintesis dengan dua cara, yaitu polimerisasi secara elektrokimia dan oksidasi kimia. Sintesis polianilin secara elektrokimia menyebabkan terjadinya perubahan konduktivitas sehingga dapat diaplikasikan sebagai elektroda karbon, membran redoks, sensor pH, dan sensor-sensor lainnya.. Sedangkan sintesis polianilin dilakukan dengan metode oksidasi kimia, oksidator yang digunakan adalah larutan kalium persulfat jenuh yang diasamkan dengan larutan HCl 1 M sedangkan monomer yang digunakan adalah anilin. Saat ini terdapat usaha-usaha untuk mengembangkan metoda baru untuk mensintesis polianilin agar memperoleh sifat mekanik yang lebih baik sementara mempertahankan konduktivitas yang tinggi. Strategi yang paling umum yang diimplementasikan adalah mengubah agen pengoksidasi yang digunakan dalam reaksi polimerisasi kimia. Sebagai contoh, telah ditunjukkan bahwa bila (NH4)S2O8 atau K2Cr2O7 digunakan, berat molekul yang tinggi dapat dicapai dengan menurunkan temperatur polimerisasi sampai di bawah 0oC.
Penelitian yang dilakukan oleh Tockary (2005), yaitu melakukan polimerisasi dengan mereaksikan anilin langsung dengan ammonium peroksodisulfat. Namun sifat anilin yang kurang stabil saat disimpan menyebabkan pemurnian anilin harus dilakukan berulang kali sebelum dilakukan polimerisasi. Oleh sebab itu, dilakukan modifikasi terhadap anilin yaitu dengan cara menggunakan dopan berupa HCl sehingga akan membentuk garam anilinium klorida berupa endapan. Polimerisasi film polianilin dilakukan secara in situ.
Polimerisasi dilakukan dengan mengacu pada pedoman teknis IUPAC untuk polimerisasi anilin, yaitu dengan mencampurkan 50 mL masing-rnasing larutan yang mengandung 25 mmol amonium persulfat (APS) dan larutan 20 mmol anilin dalam gelas piala disertai dengan pengadukan. Sebelurnnya, plastik milar berukuran 1x7 em sudah dimasukkan pada gelas piala, dirnana reaksi polimerisasi dalam larutan akan berlangsung. Hal ini dilakukan karena polimerisasi yang terjadi diharapkan selain membentuk endapan PANI dalam fasa aqueous, juga membentuk lapisan PANI pada plastik milar dalam kondisi in situ. Pengadukan dilakukan selarna berlangsungnya proses polimerisasi, dan dihentikan saat larutan berubah menjadi berwarna merah muda. Larutan selanjutnya dibiarkan tanpa pengadukan dan polimerisasi dibiarkan untuk terus berlanjut. Apabila reaksi sudah dianggap selesai, endapan PANI yang terbentuk disaring, dibilas dengan HCI 0,2 N dan aseton, untuk selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC. Plastik milar yang sudah dilapisi PANI (film PANI) dicuci dengan air, dicelupkan dalam HCI 0,2 N, dan dikeringkan dalam udara..
Berdasarkan tingkat oksidasinya, polianilin dapat disintesis dalam beberapa bentuk isolatifnya yaitu leucomeraldine base (LB) yang tereduksi penuh, emeraldine base (EB) yang teroksidasi setengah dan pernigraniline base (PB) yang teroksidasi penuh. Dari tiga bentuk ini, EB yang paling stabil dan juga paling luas diteliti karena konduktivitasnya dapat diatur dari 10-10 S/cm hingga 100 S/cm melalui doping, sedangkan bentuk LB dan PB tidak dapat dibuat konduktif. Bentuk EB dapat dibuat konduktif dengan doping asam protonik seperti HCl, dimana proton-proton ditambahkan ke situs-situs –N=, sementara jumlah elektron pada rantai tetap. Bentuk konduktif dari EB disebut emeraldine salt (ES). Bentuk dasar EB berubah menjadi ES melalui reaksi oksidasi dengan asam-asam protonik seperti HCl, sebaliknya bentuk ES dapat dikembalikan menjadi bentuk EB melalui reaksi reduksi dengan agen reduktan seperti NH4OH, seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Kedua proses ini disebut juga proses protonasi-deprotonasi atau doping-dedoping. Kedua bentuk emeraldine memiliki sifat listrik yang berkebalikan, EB yang isolatif dan ES yang konduktif atau semikonduktif. Derajat konduktivitas emeraldine ini bergantung pada tingkat doping yang diberikan, yaitu jumlah proton (H+) yang didopingkan ke dalam struktur emeraldine. Sifat optiknya juga berbeda untuk kedua bentuk emeraldine, yaitu EB berwarna biru sedangkan ES berwarna hijau sehingga karakteristik absorpsi optiknya berbeda. Sifat listrik (konduktivitas) dan optik (indeks bias dan absorpsivitas) emeraldine dapat divariasikan melalui reaksi oksidasi reduksi oleh agen-agen oksidan dan reduktan. Karakteristik ini dapat dimanfaatkan untuk sensor kimia.


Gambar 1 Reaksi protonasi-deprotonasi polianilin
2.2 Modifikasi Polianilin
Polianilin dapat dimodifikasi dengan material lainnya untuk menambah kinerja material fungsional tersebut. Modifier tersebut berupa surfaktan, dopan senyawa anorganik HCl ataupun dopan senyawa organik yaitu asam asetat, dan asam propionat yang mempunyai gugus fungsi yang khas untuk menjalankan fungsinya secara sensitif dan selektif.
2.2.1 Modifikasi dengan Surfaktan
Surfaktan adalah akronim dari surface active agent, zat aktif permukaan, yaitu senyawa yang bila dalam konsentrasi rendah pada sistem, akan bertindak sebagai adsorben, mengadsorbsi permukaan (surface) atau batas antar muka (interface) dalam sistem, serta mengubah energi bebasnya.
Molekul surfaktan memberikan efek hidrofobik, dengan mengontrol katalisis elektrokimia, mempengaruhi orientasi dan kelarutan pada media misel dan akan menghasilkan film PANI yang bagus. Salah satu contoh, polypyrrole yang ditumbuhkan dengan adanya surfaktan anionik amphipathic, dapat menaikkan konduktivitas dan aktivitas. Dari percobaan yang dilakukan oleh Heeger, dilaporkan bahwa konduktivitas PANI meningkat hingga 400Scm-1 pada larutan dengan anion CAS (Camphore Sulfonic Acid) dan 250Scm-1 dengan adanya DBSA sebagai dopant. Adanya dopant menghasilkan film dengan kualitas tinggi dan mengurangi ketidakteraturan. Dengan adanya surfaktan agent, terjadi penurunan energi bebas sistem, dimana terjadi interaksi antara surfaktan dengan polimer elektrokimia seperti PANI, akan mengubah sifat makro dan mikro.
Faktor yang mempengaruhi asosiasi PANI-surfaktan adalah gaya ikatan van der waals, elektrostatik dipolar dan efek hidrofobik surfaktan. SDS adalah anion surfaktan yang dapat mengubah konformasi rantai PANI sehingga meningkatkan konduktivitasnya. Dalam proses polimerisasi, kehadiran dari anion surfaktan dapat mempengaruhi kecepatan polimerisasi dan keseragaman film yang dihasilkan. Misel anionik dari SDS dapat mengkatalisis proses elektropolimerisasi anilin dan meningkatkan elektroaktivitas serta keseragaman film. Adanya doping anion surfaktan pada film PANI, akan meningkatkan penampilan dan kualitas film.
2.2.2 Modifikasi dengan Dopan Asam Asetat dan Asam Propionat
Penambahan dopan asam asetat maupun asam propionat ke dalam anilin menyebabkan terjadinya campuran dua fasa yang disebabkan oleh perbedaan sifat kepolaran dari anilin dan asam yang ditambahkan. Namun, penambahan asam-asam tersebut hingga saat ekivalen menjadikan larutan tersebut berubah menjadi satu fasa. Oleh karena itu, garam anilinium asetat maupun anilinium propionat yang terbentuk merupakan garam terlarut yang disebabkan garam tersebut sulit untuk beragregasi membentuk endapan karena pelarut lebih suka mensolvasi garam-garam tersebut.
2.2.3 Modifikasi dengan Dopan HCl
Polianilin terdapat dalam berbagai derajat oksidasi dan protonasi. Kedua hal ini menentukan bentuk dan sifat kimia polianilin. Berdasarkan derajat oksidasinya, polianilin dapat ditemukan dalam tiga bentuk, yakni
- Pemigranilin (bentuk teroksidasi penuh)
- Emeraldin (bentuk setengah teroksidasi)
- Leukoemeraldin (bentuk tereduksi penuh)
Dari tiga bentuk ini, EB yang paling stabil dan juga paling luas diteliti karena konduktivitasnya dapat diatur dari 10-10 S/cm hingga 100 S/cm melalui proses doping, sedangkan bentuk LB dan PB tidak dapat dibuat konduktif. Bentuk EB dapat dibuat konduktif dengan proses doping asam protonik seperti HCl, dimana proton-proton ditambahkan ke situs-situs –N=, sementara jumlah elektron pada rantai tetap. Bentuk konduktif dari EB disebut emeraldine salt (ES). Bentuk dasar EB berubah menjadi ES melalui reaksi oksidasi dengan asam-asam protonik seperti HCl, sebaliknya bentuk ES dapat dikembalikan menjadi bentuk EB melalui reaksi reduksi dengan agen reduktan seperti NH4OH. Kedua proses ini disebut juga proses protonasi-deprotonasi atau doping-dedoping (Gambar 1). Kedua bentuk emeraldine memiliki sifat listrik yang berkebalikan dimana EB merupakan bentuk isolatif dan ES merupakan bentuk konduktif. Derajat konduktivitas emeraldine ini bergantung pada tingkat/konsentrasi dopant yang diberikan, yaitu jumlah proton (H+) yang dimasukkan ke dalam struktur emeraldine.
Pada saat protonasi, terjadi perubahan pada atom nitrogen imine (pada cincin quinoid), terjadi secara cepat relaksasi geometri, menghasilkan transisi dalam quinoid menjadi benzenoid (lihat Gambar 2), peristiwa ini dikenal dengan bipolaron. Pembawa muatan bipolaron memiliki energi yang tinggi dan terjadi dalam waktu yang singkat. Penyebaran kembali muatan dan spin menghasilkan sebuah polaron sebagai pembawa muatan yang lebih stabil.

Gambar 2. Transisi bipolaron dan polaron
2.3 Karakterisasi Polianilin
Hasil scanning permukaan film polianilin dapat diamati menggunakan SEM, sedangkan vibrasi yang terjadi selama proses polimerisasi dapat diamati melalui karakterisasi FT-IR, XRD dilakukan untuk mengetahui kristalinitas sampel polianilin, dan spektra serat optik dilakukan untuk mengetahui kristalinitas sampel polianilin.
2.3.1 Karaktersisasi dengan SEM
Scanning Electron Microscopy (SEM) merupakan sejenis mikroskop yang menggunakan elektron sebagai pengganti cahaya untuk melihat benda dengan resolusi tinggi. Analisis SEM bermanfaat untuk mengetahui mikrostruktur (termasuk porositas dan bentuk retakan) benda padat. Berkas sinar elektron dihasilkan dari filamen yang dipanaskan, disebut lectron gun..Hasil scanning permukaan substrat yang dilapisi film polianilin menunjukkan tingginya indeks polidispers yang dibentuk oleh dopan asam lemah memudahkan terjadinya distribusi sehingga produk yang terbentuk adalah polimer. Oleh karena itu, bentuk yang terlihat adalah nanotube (Stejskal, 2008). Hasil penelitian Herlianti (2007) menyebutkan bahwa substrat yang bersifat hidrofob akan semakin mempercepat laju pertumbuhan rantai polimer pada substrat tersebut.

Gambar 3. Citra SEM permukaan polianilin
2.3.2 Karakterisasi dengan FT-IR
Uji spektroskopi inframerah bertujuan untuk melihat gugus fungsional sampel polianilin yang telah disintesis. Gambar 4 memperlihatkan spektrum transmitans inframerah sampel polianilin dengan pita-pita absorpsi karakteristik yang bersesuaian dengan gugus fungsional polianilin. Pada kurva, tampak pita absorpsi karakteristik polianilin pada bilangan gelombang 1561 cm-1 dan 1460 cm-1, yang masing-masing ditandai sebagai vibrasi stretching C=C dari cincin-cincin quinoid (N=Q=N) dan cincin-cincin benzoid (N-B-N) sebagai backbone polianilin. Puncak karakteristik pada 1400 cm-1 merupakan vibrasi stretching gugus amonium aromatik, dan karakteristik pada 1294 cm-1 bersesuaian dengan vibrasi stretching C-N [24]. Sedangkan puncak kuat 1120 cm-1 bersesuaian dengan stretch C=N cincin quinoid terprotonasi, diyakini sebagai puncak karakteristik dan justifikasi kondisi konduktif polianilin. Hasil ini sesuai dengan kondisi síntesis sampel dimana polianilin didoping dengan HCl sebagai sumber proton (H+) sehingga menghasilkan bentuk konduktif polianilin (Emeraldine salt).

Gambar 4 Spektra transmitans FTIR sampel polianilin
Sedangkan untuk sintesis polianilin dengan pemberian dopan berupa asam asetat maupun propionat yang merupakan suatu asam organik dapat menghasilkan spektrum FT-IR, serapan 1247, 66 cm-1 mengindikasikan adanya ester asetat (CH3CO-O-R), 1307,8 cm-1 menunjukkan adanya ester asam aromatik, yaitu interaksi antara gugus karboksilat asam asetat/asam propionat dengan gugus amina dari anilin. Serapan 1574, 55 cm-1 mengindikasikan adanya gugus amina.
2.3.3 Kristalografi Polianilin
Karakterisasi XRD dilakukan untuk mengetahui kristalinitas sampel polianilin. Pola difraksi (difraktogram) sampel nanoserat polianilin pada Gambar 5, memperlihatkan tiga puncak difraksi pada sudut 2θ=14,5o, 19,6o dan 25,5o. Pola difraksi ini mengindikasikan struktur kristal parsial atau semikristalin dari polianilin. Puncak pada 2θ=19,6o diakibatkan oleh periodisitas yang sejajar terhadap cincin polimer polianilin, sedangkan puncak pada 2θ=25,5o diakibatkan oleh periodisitas yang tegak lurus terhadap cincin polimer polianilin. Pola difraksi yang melebar mengindikasikan struktur polianilin nanokristal.

Gambar 5. Pola difraksi sinar-X sampel polianilin
2.3.4 Spektra absorpsi optic
Uji spektroskopi optik dimaksudkan untuk melihat karakteristik serapan (absorpsi) optik polianilin pada rentang cahaya tampak (visible) hingga inframerah dekat. Spektrum absorpsi film polianilin hasil casting pada substrat kaca diambil sebelum dan setelah diberi perlakuan uap amonia. Kurva spektrum absorbansi spesifik film polianilin berdoping sebelum dan setelah perlakuan uap amonia dan aseton ditunjukkan pada Gambar 6. Film polianilin sebelum perlakuan uap kimia memiliki dua pita absorpsi yaitu yang berpusat pada sekitar 420 nm dan spektrum lebar antara 700-900 nm yang mengindikasikan bentuk polianilin teroksidasi atau bentuk ES polianilin. Spektrum absorpsi ini bersesuaian
dengan transisi elektronik pita polaron di dalam bahan polianilin. Absorpsi pada pita 420 bersesuaian dengan transisi polaron-π*, sedangkan transisi pada sekitar 800 nm bersesuaian dengan transisi pita π-polaron. Pita absopsi film polianilin ini juga bersesuaian dengan warna hijau polianilin berdoping, yaitu bentuk emeraldine salt (ES), sehingga tidak menyerap spektrum hijau namun menyerap dengan kuat spektrum biru dan merah hingga inframerah dekat.
Ketika diekspose dengan uap amonia, film polianilin mengalami deprotonasi yaitu pelepasan proton (H+) yang diikuti pengikatan OH- dari uap larutan NH4OH, akibatnya polianilin berubah menjadi emeraldine base (EB) yang berwarna biru. Implikasinya, spektrum absorpsinya bergeser ke arah panjang gelombang lebih pendek sehingga tidak lagi menyerap spektrum biru namun menyerap dengan kuat spektrum yang cukup lebar dari hijau hingga merah (640-900 nm), seperti ditunjukkan pada Gbr. 6. Selain itu, akibat deprotonasi atau dedoping dengan uap amonia melalui pelepasan proton (H+) dan pengikatan OH-, struktur elektronik polianilin berubah yang mengakibatkan celah pita energinya melebar. Akibatnya, spektrum absorpsinya bergeser ke daerah panjang gelombang lebih pendek, artinya celah pita energi optiknya berkurang ketika didoping atau diprotonasi. Lekha dkk melaporkan nilai energi celah pita optik polianilin tanpa doping adalah sekitar 1,68 eV dan berkurang menjadi 1.41 eV setelah didoping dengan asam tungstophosphoric. Perubahan spektra absorpsi sampel polianilin terhadap perlakuan uap amonia mengindikasikan dapat diterapkan sebagai sensor optik
uap amonia.

Gambar 6. Spektrum absorpsi film polianilin tanpa dan dengan perlakuan uap amonia
2.4 Aplikasi Film Polianilin sebagai Sensor Kualitatif Uap Amonia
Film polianilin hasil polimerisasi anilium asetat maupun anilinium propionat diujicobakan sebagai sensor uap amonia dengan mengamati perubahan hantaran yang terjadi saat film polianilin dialiri dan tidak dialiri uap amonia. Pada menit ke-0 kedua film diukur di udara tanpa adanya uap amonia. Pada menit ke-1 sampai menit ke-5, kedua film dialiri uap amonia.
Saat film polianilinium asetat diberikan uap amonia, terjadi kenaikan hambatan pada film tersebut, sedangkan penurunan terjadi pada saat pengukuran hambatan film polianilinium propionat saat diberikan uap amonia. Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan hantaran film polianilinium asetat oleh uap amonia sedangkan kenaikan hantaran terjadi pada film polianilinium propionat.
Perbedaan tersebut terjadi atas dasar kemudahan dopan berinteraksi dengan uap amonia yang diberikan. Gugus asetat yang sedikit lebih polar dibanding propionat, dapat lebih mudah berinteraksi dengan NH3 yang berasal dari uap amonia sehingga sifat menghantar polianilin yang terbentuk semakin berkurang.
Pada sensor gas atau uap, proses awal yang terjadi pada mekanisme sensing hádala proses difusi gas atau uap ke dalam material sensor. Proses ini harus berlangsung cepat untuk mendapatkan sensitivitas dan waktu respon tersingkat. Penggunaan polianilin sebagai sensor kimia yaitu dalam sistem serat optik untuk mendeteksi uap amonia. Sistem sensor ini menggunakan material nanostruktur (nanofiber) polianilin sebagai cladding modifikasi pada serat optik untuk meningkatkan kinerja sensor dalam hal sensitivitas, responsivitas, dan reversibilitas.
Pada film polianilin, pengukuran penyerapan cahaya dilakukan setelah film itu terkena uap HCl dan NH3. Perbedaan spectra menunjukkan bahwa uap HCl dan NH3 memicu perbedaan struktur band dan konformasi polimer. Oleh karena itu, sifat optik film berubah ketika film beralih dari satu keadaan (didoped oleh HCl) ke keadaan lain (de-doped oleh NH3). Pengukuran indeks bias oleh ellipsometry menunjukkan bahwa indeks bias berubah dari 2,43 (didoped oleh HCl) ke 1.95 (de-doped oleh NH3).
Polianilin sebagai salah satu polimer konduktif, mencapai konduktivitas elektrikal dengan menciptakan pembawa muatan melalui doping tipe-p (lubang) atau tipe-n (elektron) dari polimer yang dikonjugasikan tulang punggung. Polianiline merupakan polimer ini dapat diolah dari berbagai proses redoks atau oksidasi parsial elektrokimia atau pengurangan parsial. Ada juga bukti proses non-redoksdoping. Proses doping-dedoping ini menghasilkan perubahan reversibel atau ireversibel dalam sifat-sifat listrik dan optik polimer ini, maka bahan-bahan dapat diaplikasi dalam device electrochromic dan sensor kimia optik.
2.5 Regenerasi Polianilin
Polianilin dapat diregenerasi selama perlakuan asam basa dari sampel yang disiapkan melalui fraksinasi vakum deposisi termal. Namun terdapat kelemahan dari metode regenerasi ini yaitu konduktivitasnya menjadi berkurang lima kali lipat.
III. PENUTUP
Polianilin dapat disintesis baik melalui reaksi polimerisasi secara elektrokimia maupun reaksi oksidasi kimia. Selain itu polianilin dapat dimodifikasi dengan material lainnya berupa surfaktan, dopan senyawa anorganik HCl ataupun dopan senyawa organik yaitu asam asetat, dan asam propionat yang mempunyai gugus fungsi yang khas untuk menjalankan fungsinya secara sensitif dan selektif sehingga dapat menambah kinerja polianilin. Dalam hal ini, polianilin yang hasil sintesis dapat digunakan sensor kualitatif uap amonia. Karakterisasi terhadap polianilin hasil sintesis dilakukan yaitu menggunakan SEM untuk mengamati scanning permukaan film polianilin, sedangkan vibrasi yang terjadi selama proses polimerisasi dapat diamati melalui karakterisasi FT-IR, XRD dilakukan untuk mengetahui kristalinitas sampel polianilin, dan spektra serat optik dilakukan untuk mengetahui kristalinitas sampel polianilin. Polianilin dapat diregenerasi selama perlakuan asam basa dari sampel yang disiapkan melalui fraksinasi vakum deposisi termal.
DAFTAR PUSTAKA
Kertati, Santi. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Polianilin dari Anilinium Asetat dan Anilinium Propionat serta Aplikasinya Sebagai Sensor Uap Amonia. (Skripsi). Universitas Indonesia. Depok
Liu G, Freund, M.S. 1997. New Approach for the Controlled Cross-Linking of Polyaniline : Synthesis and Characterization. Macromolecules, 30, 5660-5665
M. Zainul Asrori, Andry Permana, Devi Sukma, Darminto. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Nanoserat Polianilin, 2, 74-78
Maddu, Akhiruddin. 2007. Pengembangan Sensor Serat Optik Dengan Cladding Termodifikasi Polianilin Nanostruktur Untuk Mendeteksi Beberapa Uap Kimia. Universitas Indonesia. Depok.